Jumat, 13 Mei 2016

[Catatan Perjalanan] Berburu Hujan Meteor Eta Aquarid dan Bima Sakti di Gunung Prau

Star Trail di langit atas Gunung Prau, Jawa Tengah. 2565 mdpl. Kredit & Hak Cipta: Martin Marthadinata/JejakLangit.com
Mengunjungi Dataran Tinggi Dieng dan mendaki Gunung Prau adalah pengalaman pertama bagi tim JejakLagit.com. Kami berlima, sebagai tim, kembali mengajak publik untuk ikut serta dalam trip kali ini dengan tajuk: berburu hujan meteor Eta Aquarid dan galaksi Bima Sakti!

Trip kami putuskan dilaksanakan pada 1 hingga 3 Mei 2016, mengingat 4 sampai 8 Mei 2016 adalah super-long-weekend, kami berusaha menghindari keramaian. Dan pemilihan tanggal ini cukup berhasil. Trip kami lebih mirip seperti private-tour. Lebih tentram.

Hari pertama, tim JejakLangit.com beserta para peserta trip mengunjungi sebuah obyek wisata bernama Kawah Sikidang. Ada berbagai macam tempat wisata di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Salah satu obyek wisata di Dieng yang banyak diminati oleh para wisatawan (termasuk kami) adalah Kawah Sikidang.

Bersama dengan Candi Arjuna dan Telaga warna, Kawah Sikidang Wonosobo ini menjadi destinasi wisata unggulan di Dieng Plateau. Sedikit informasi, Kawah Sikidang adalah cekungan berisi kawah yang timbul karena aktivitas Gunung Berapi di Dataran TInggi Dieng. Lokasi dari Kawah Sikidang ini berada di tanah yang lumayan datar, sehingga kami dapat dengan jelas melihat gumpalan asap yang keluar dari Kawah Sikidang ini.

Kami tiba di Kawah Sikidang, Dieng. Kredit & Hak Cipta: Martin Marthadinata/JejakLangit.com
Di kawasan Kawah Sikidang Wonosobo ini sebenarnya tidak hanya terdapat satu kawah saja. Kawah Sikidang adalah kawah yang paling jelas terlihat di kawasan itu. Di sekitarnya terdapat beberapa kawah yang bentuknya hanya kecil serta terdapat beberapa kawah yang sudah mati. Kawah-kawah yang kecil ini selalu berpindah pindah seperti kidang (kijang). Makanya Kawah ini dinamakan warga sekitar dengan Kawah Sikidang.

Melihat banyak tukang jajanan pada foto Kawah Sikidang di atas? Benar sekali. Selain berwisata melihat kawah, di sana juga banyak penjual yang menjual penganan kecil, seperti kentang goreng, jamur goreng, dan masih banyak lainnya.

Berfoto di depan Kawah Sikidang, Dieng. Kredit & Hak Cipta: Muji/JejakLangit.com
Puas berjalan-jalan di Kawah Sikidang, kami kembali melanjutkan perjalanan ke tempat wisata lainnya, yaitu Telaga Warna dan Candi Arjuna. Sebenarnya antara Kawah Sikidang, Telaga Warna dan Candi Arjuna ini lokasinya berdekatan alias tidak terlalu jauh, jadi perjalanan juga tidak memakan waktu yang lama.

Mengunjungi Telaga Warna, Dieng. Kredit & Hak Cipta: Osep Chaerul Anwar/JejakLangit.com

Pendakian pun Dimulai!

Suhu udara mulai dingin (tapi sepertinya memang selalu dingin di sana), di hari yang sama, 1 Mei 2016, sore hari kami bersiap menuju titik awal untuk pendakian Gunung Prau. Seluruh tim dan peserta membawa tas carrier berisi perlengkapan, makanan dan barang-barang penunjang lainnya. Kami berangkat sekitar pukul 4 sore. Menurut pemandu, Mas Sugeng, pendakian akan memakan waktu 4 jam (5 jam untuk ibu-ibu!).

Sore hari pun menjadi senja, senja berganti menjadi malam. Sudah setengah perjalanan ketika sudah pukul 7 malam. Dan setelah pendakian yang cukup melelahkan (maklum saja, kami bukan anak gunung), akhirnya kami tiba di puncak Gunung Prau, 2565 meter di atas permukaan laut! Tapi karena kami kelelahan, sebagian besar tim dan peserta yang ikut trip ini memutuskan untuk istirahat dulu.

***

Menjelang tengah malam, kami sudah selesai beristirahat, beberapa dari kami bangun dan keluar tenda. Dan di atas tenda terlihat jelas, bintang-bintang yang luar biasa banyak dan indah!

Taburan bintang di langit atas tenda kami. Kredit & Hak Cipta: Martin Marthadinata/JejakLangit.com
Tidak hanya bintang-bintang, di tengah suhu dingin yang menusuk tulang kami juga berhasil melihat dan mengabadikan bentangan indah galaksi kita, Bima Sakti, yang nampak jelas dan menakjubkan. Tentu tak luput dari pandangan kami, lesatan meteor Eta Aquarid!

Can you spot the meteor? Kredit & Hak Cipta: Martin Marthadinata/JejakLangit.com
Di puncak Gunung Prau, kami melihat lesatan-lesatan meteor dari Eta Aquarid yang indah, bahkan ada satu fireball atau meteor terang yang meninggalkan jejak asap. Yang seru adalah, ketika sebuah meteor melesat, kami berteriak bahagia!

Malam berlalu begitu cepat kala itu, Sang Surya terlihat sudah bersiap kembali menyinari Bumi Indonesia. Sunrise seolah menyambut kami dengan telat. Kami sudah tiba sejak malam tadi, Matahari!

Sunrise dan dua gunung yang gagah, Sindoro-Sumbing. Kredit & Hak Cipta: Muji/JejakLangit.com
Sambil menikmati hangatnya sinar Matahari, kami menghabiskan pagi hari di puncak Prau dengan (tentu saja) mengabadikan momen alias berfoto. Berbagai macam pose foto kami lakoni. Mulai dari superman, loncat, sampai selfie yang biasa saja.

Superman di Gunung Prau. Kredit & Hak Cipta: Muji/JejakLangit.com
Foto bersama di Puncak Gunung Prau. Kredit & Hak Cipta: Muji/JejakLangit.com
***

Star Party Hari Kedua!

Pada 2 Mei 2016, menjelang tengah hari, kami sudah kembali turun dari Gunung Prau. Hari itu kami benar-benar manfaatkan untuk istirahat saja. Karena malam harinya, kami berkunjung ke Bukit Skoter tidak jauh dari homestay.

Di Bukit Skoter hampir sama dinginnya dengan di puncak Gunung Prau, di sana kami kembali mengadakan star party berupa pengamatan bintang, planet, rasi bintang dan petir yang saling menyambar di kejauhan. Langit Dieng yang masih bersih karena bebas polusi udara dan minim polusi cahaya membuat kami takjub.

Kami berhasil melihat segitiga benda langit, yakni Planet Mars, Planet Saturnus dan bintang paling terang di rasi bintang Scorpius, Alpha Scorpii alias Antares!

Foto bersama di Bukit Skoter/Scotter. Kredit & Hak Cipta: Muji/JejakLangit.com
Segitiga Mars-Saturnus-Antares di Bukit Skoter/Scotter. Kredit & Hak Cipta: Martin Marthadiniata/JejakLangit.com
Mengamati planet dan bintang dengan teleskop di Bukit Skoter. Kredit & Hak Cipta: Osep Chaerul Anwar

Setiap Pertemuan, Pasti Ada Perpisahan

Puas setelah star party selama dua malam, kami akhirnya tiba di hari ketiga, hari perpisahan. Tapi sebelum berpisah, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Bukit Sidengkeng, yang mana dari atas sana terlihat Telaga Warna dengan warna kehijauan yang cantik!

Setelah check-out dari homestay, kami membeli oleh-oleh, lalu langsung berangkat ke Bukit Sidengkeng yang tidak jauh, hanya memakan waktu sekitar 10 menit dengan minibus. Dan sesampainya di Bukit Sidengkeng, kami bisa beristirahat dan berfoto dengan latar perbukitan, telaga dan gunung yang sulit untuk dilupakan keindahannya.

Mengabadikan momen di Bukit Sidengkeng. Kredit & Hak Cipta: Osep Chaerul Anwar/JejakLangit.com
Foto bersama di Bukit Sidengkeng. Kredit & Hak Cipta: Osep Chaerul Anwar/JejakLangit.com
Seperti sub-judul di atas; setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Tempat perpisahan kami adalah di Bukit Sidengkeng, tapi ada sebagian peserta juga yang ikut makan siang sebelum akhirnya berpisah di Terminal Mendolo, Wonosobo.

Inilah perjalanan kami yang berkesan di hati. Sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Jadi, ke mana trip kita selanjutnya?

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar atau hubungi kami via email ke admin@jejaklangit.com.